AMBON, Gardatimur.com – Wali Kota Ambon, Bodewin Melkias Wattimena, mendorong pemanfaatan sains dan teknologi sebagai instrumen pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Bodewin saat menjadi pembicara dalam The 2nd International Conference Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Pattimura (Unpatti), yang berlangsung di Hotel Santika Ambon, Jumat (16/10/2026).
Dalam pemaparannya yang mengangkat tema “Pembangunan Inklusif Berbasis Sains dan Teknologi”, Bodewin menegaskan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak semata-mata diukur dari kecanggihan teknologi yang digunakan, tetapi juga dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat.
Kalau kita bicara peran sains dan teknologi untuk kepentingan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat, maka hal itu tidak boleh hanya diukur dari seberapa canggih teknologi yang kita gunakan,” kata Bodewin.
Menurutnya, ukuran utama keberhasilan pemanfaatan sains dan teknologi adalah sejauh mana keduanya mampu mendukung pencapaian tujuan pembangunan, memperluas manfaat bagi masyarakat, mengurangi kesenjangan, membuka kesempatan yang setara, serta menjaga keberlanjutan.
Ia menjelaskan, ilmu pengetahuan menyediakan landasan dan bukti dalam pengambilan kebijakan, sedangkan teknologi menjadi instrumen untuk menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Karena itu, pemerintah harus memastikan bahwa perkembangan sains dan teknologi dapat dimanfaatkan secara tepat untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Tujuan pemerintahan adalah memastikan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pemenuhan kebutuhan minimal masyarakat dapat tercapai,” ujarnya.
Bodewin menjelaskan, pembangunan perkotaan menghadapi berbagai persoalan yang saling berkaitan, mulai dari kemiskinan dan ketimpangan sosial, produktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), transformasi ekonomi digital, pendidikan, kesehatan, perlindungan kelompok rentan, hingga persoalan lingkungan.
Pada sektor ekonomi, keterbatasan sumber daya alam menuntut Kota Ambon untuk mendorong kemandirian masyarakat dalam berusaha sekaligus meningkatkan pendapatan.
Menurutnya, pelaku UMKM juga perlu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital agar mampu memperluas jaringan usaha, meningkatkan daya saing, dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Sementara itu, pada sektor sosial, pemerintah dituntut memastikan pemerataan akses pendidikan, peningkatan literasi dan numerasi, distribusi tenaga pendidik yang lebih merata, serta ketersediaan pelayanan kesehatan yang dapat dijangkau seluruh masyarakat.
“Di bidang kesehatan, kita harus memastikan pelayanan kesehatan terjangkau sampai ke seluruh wilayah,” katanya.
Selain persoalan ekonomi dan sosial, Bodewin turut menyoroti berbagai tantangan lingkungan, seperti pengelolaan sampah, kualitas air, degradasi lingkungan, perubahan iklim, kemacetan, banjir, hingga kebutuhan pembangunan infrastruktur perkotaan.
Menurutnya, kompleksitas persoalan tersebut membutuhkan pendekatan yang tepat, termasuk pemanfaatan hasil penelitian, inovasi, dan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan daerah.
Bodewin menegaskan bahwa pemerintah tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan pembangunan secara mandiri. Dibutuhkan kolaborasi berbagai pihak melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat, dan unsur terkait lainnya.
Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi memiliki posisi strategis karena mempunyai kapasitas keilmuan, penelitian, inovasi, dan pengembangan teknologi yang dapat mendukung pemerintah dalam merumuskan kebijakan serta mencari solusi atas berbagai tantangan pembangunan.
Ia berharap sinergi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi dapat semakin diperkuat sehingga hasil penelitian dan inovasi akademik tidak hanya berhenti di lingkungan kampus, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Tidak ada satu pihak pun yang mampu menyelesaikan persoalan-persoalan ini sendiri. Kita membutuhkan kerja bersama dan kolaborasi,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Bodewin juga mengingatkan bahwa pemanfaatan sains dan teknologi harus mempertimbangkan kondisi, kebutuhan, serta kemampuan masing-masing daerah.
Menurutnya, keberhasilan penerapan suatu teknologi di wilayah tertentu tidak serta-merta menjamin teknologi yang sama dapat diterapkan di wilayah lain tanpa mempertimbangkan kesiapan dan karakteristik daerah tersebut.
Ia mencontohkan tuntutan masyarakat agar pemerintah menggunakan pesawat untuk membantu menangani kabut asap akibat kebakaran di Ambon. Menurutnya, teknologi tersebut memang telah digunakan di sejumlah wilayah, tetapi penerapannya harus disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan daerah.
Hal serupa, lanjutnya, berlaku terhadap harapan masyarakat mengenai rekayasa cuaca untuk mendatangkan hujan. Penerapan teknologi tersebut memerlukan kondisi dan pertimbangan ilmiah tertentu sehingga tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan keinginan tanpa memperhatikan faktor-faktor yang memengaruhinya.
Karena itu, Bodewin menekankan bahwa perkembangan sains dan teknologi harus tetap berorientasi pada manusia. Teknologi harus mampu menjawab kebutuhan nyata, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat.
Perkembangan sains dan teknologi mesti berjalan seiring dengan meningkatnya kebutuhan manusia itu sendiri,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bodewin menegaskan bahwa pembangunan Kota Ambon dalam lima tahun kepemimpinannya diarahkan pada visi “Ambon Manise yang Inklusif, Toleran, dan Berkelanjutan.”
Menurutnya, pembangunan inklusif berarti memastikan seluruh lapisan masyarakat memperoleh akses dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan intervensi pembangunan serta menikmati hasil-hasilnya.
Prinsip tersebut, kata dia, harus menjadi landasan bagi pemerintah dalam merumuskan dan melaksanakan berbagai program pembangunan agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat.
Dengan dukungan sains, teknologi, inovasi, serta kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi, Bodewin berharap pembangunan Kota Ambon dapat berjalan lebih efektif, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Inklusif itu berarti memastikan semua masyarakat dapat mengakses pembangunan, memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh intervensi pembangunan, dan menikmati hasil-hasilnya,” pungkasnya.”













