Pemkot

Bodewin Wattimena Ceritakan Kisah Hidup, Sebagai Motivasi Bagi Siswa SMPN 4 Ambon, Dia “INGATkAN” Jangan Jadi Penonton Di Indonesia Emas 2045

9
×

Bodewin Wattimena Ceritakan Kisah Hidup, Sebagai Motivasi Bagi Siswa SMPN 4 Ambon, Dia “INGATkAN” Jangan Jadi Penonton Di Indonesia Emas 2045

Sebarkan artikel ini

AMBON, Gardatimur.com – Wali Kota Ambon, Bodewin Melkias Wattimena, membagikan kisah perjalanan hidupnya kepada siswa SMP Negeri 4 Ambon. Dari kehidupan sederhana di Negeri Siwang hingga berhasil menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN), kisah tersebut disampaikan untuk memotivasi siswa agar tidak menyerah pada keterbatasan.

Bodewin hadir sebagai tokoh inspiratif dalam kegiatan kokurikuler kelas VII bertema “Aku dan Prestasiku”, yang merupakan bagian dari penguatan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH) melalui kebiasaan gemar belajar, Kamis (8/10/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dewan guru, pengurus OSIS, serta siswa kelas VII SMP Negeri 4 Ambon.

Dalam kesempatan itu, Bodewin menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan mencerdaskan siswa secara intelektual, tetapi juga harus membentuk karakter.

Yang terpenting adalah meningkatkan kualitas anak didik. Peningkatan kualitas anak didik ini mesti komprehensif. Cerdas secara intelektual, tapi juga karakter,” kata Bodewin.

Menurutnya, pendidikan merupakan salah satu kunci utama dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan.

Pemerintah Kota Ambon, kata Bodewin, terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan melalui berbagai aspek, mulai dari penyediaan sarana dan prasarana, dukungan terhadap kurikulum, peningkatan kapasitas guru, hingga pelibatan komite sekolah.

“Cerdas intelektual didukung dengan karakter yang baik, jalan masa depan terbuka luas,” ujarnya.

Di hadapan para siswa, Bodewin kemudian menceritakan perjalanan masa kecilnya.

Ia lahir dan tumbuh di Negeri Siwang pada 4 Mei 1974. Ayahnya bekerja sebagai petani, sementara ibunya berjualan sebagai papalele.

Kondisi ekonomi keluarga yang sederhana membuat Bodewin terbiasa menjalani kehidupan penuh perjuangan. Rumah keluarganya kala itu bahkan hanya berdinding bambu.

Sejak duduk di bangku SD, ia harus berjalan kaki menuju sekolah pada pagi hari.

“Jam setengah lima pagi sudah berjalan, membawa obor menuju sekolah. Sampai di tengah jalan ketika matahari sudah terbit, obor dilepas,” kenangnya.

Bodewin bersekolah di SD Kristen Seri hingga kelas III sebelum melanjutkan pendidikan di Kota Ambon.

Untuk membantu keluarga sekaligus memenuhi kebutuhan sekolah, ia pernah berjualan es dan kue di kawasan perusahaan Batugong.

Pagi-pagi saya berjalan jual kue di perusahaan Batugong, di barak-barak karyawan. Setelah menjual, pulang, kemudian sekolah,” tuturnya.

Kebiasaan tersebut terus dilakukannya hingga SMA. Keterbatasan buku pelajaran juga pernah dialaminya, tetapi kondisi itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus bersekolah.

Setelah tamat SMA, Bodewin sempat berencana bekerja di perusahaan Batugong karena kondisi ekonomi keluarga. Namun, rencana tersebut berubah setelah dirinya mengikuti seleksi masuk STPDN.

“Dari 35 orang yang diterima tahun 1993 itu, beta ada di 35 itu. Syukur, beta bisa sekolah di STPDN,” ujarnya.

Menurut Bodewin, berbagai pengalaman sulit yang dialaminya sejak kecil justru membentuk mental dan karakternya hingga dewasa.

Kisah hidup masa kecil sampai remaja itu dipenuhi dengan perjuangan yang luar biasa. Bagi beta, itu yang membentuk karakter, membentuk mental petarung, mental pejuang untuk jadi orang,” katanya.

Bodewin juga mengisahkan pesan seorang kepala sekolah yang hingga kini masih diingatnya.

Saat masih duduk di bangku SD dan meraih prestasi akademik, kepala sekolah tersebut pernah menyampaikan kepada ibunya agar Bodewin terus belajar karena suatu saat bisa menjadi Wali Kota Ambon.

“Waktu itu kepala sekolah bilang, ‘Siapa tahu bisa-bisa Wali Kota Ambon’,” ungkapnya.

Pesan tersebut kemudian terus disampaikan sang ibu ketika Bodewin memasuki SMP, SMA hingga STPDN.

“Jadi waktu beta masuk SMP, mama bilang, belajar baik-baik. Siapa tahu bisa-bisa jadi Wali Kota Ambon. Beta lulus, masuk SMA, sama pesannya. Sampai STPDN, sama pesannya,” tuturnya.

Bodewin mengatakan pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan bagi seseorang untuk berhenti mengejar pendidikan dan cita-cita.

Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan karakter.

“Karakter harus terbentuk dengan baik. Orang yang memiliki kemampuan intelektual yang baik, karakter yang baik, takut Tuhan, itulah yang membuat seseorang terbentuk menjadi pribadi yang hebat dan kuat,” katanya.

Menurutnya, setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Berbagai pengalaman dan tantangan yang dihadapi dapat menjadi bagian dari proses pembentukan karakter.

“Beta merasa diri beta sendiri terbentuk mungkin karena kerasnya hidup. Terbentuk menjadi orang yang tidak cengeng, orang yang menghadapi situasi dengan tegar. Tapi satu hal yang paling penting, beta sangat bersyukur karena sudah biasa susah, saya bisa lihat orang susah,” ujarnya.

Namun, Bodewin menegaskan seseorang tidak harus mengalami kesulitan yang sama untuk memiliki karakter kuat.

“Karena tidak semua orang terbentuk seperti itu. Tapi setiap perjalanan hidup masing-masing kita itulah yang akan membentuk pribadi-pribadi kita menjadi orang-orang yang punya karakter yang baik,” katanya.

Bodewin kemudian mengajak siswa SMP Negeri 4 Ambon melihat masa depan Indonesia pada 2045.

Menurutnya, siswa yang saat ini berusia 11 hingga 13 tahun akan memasuki usia sekitar 30–32 tahun pada 2045. Mereka akan berada pada usia produktif dan memiliki peluang besar untuk mengambil peran dalam pembangunan bangsa.

“Kalau sekarang anak-anak umur 13 tahun, 19 tahun ke depan umur 32. Itulah usia-usia produktif anak-anak di tahun 2045,” katanya.

Karena itu, Bodewin meminta para siswa mempersiapkan diri sejak sekarang.

“Yang pemerintah kota, kepala sekolah, para guru inginkan hari ini adalah anak-anak bisa mengisi Indonesia Emas 2045, menjadi generasi Kota Ambon yang turut ada di sana. Bukan penonton,” tegasnya.

Ia meminta siswa mengikuti seluruh proses pendidikan dengan sungguh-sungguh, termasuk kegiatan kokurikuler yang menjadi bagian dari pembentukan karakter.

“Semua yang diajarkan oleh para guru, baik itu mata pelajaran maupun kokurikuler, dalam rangka membentuk karakter. Ikuti ini dengan baik,” pesannya.

Bodewin juga mengingatkan siswa agar tidak terpaku pada jabatan atau profesi tertentu ketika menentukan cita-cita.

Menurutnya, cita-cita seseorang dapat berubah seiring perjalanan hidup. Ada yang ingin menjadi dokter tetapi kemudian menjadi perawat, bercita-cita menjadi jenderal namun menjadi prajurit, atau ingin menjadi profesor tetapi akhirnya menjadi guru.

“Semua salah? Bukan. Tidak masalah. Karena bukan soal jabatan apa yang katong dapat, tetapi katong menjadi bermanfaat dengan semua yang katong dapatkan saat itu,” ujarnya.

Ia mencontohkan, dari ratusan siswa yang ada, tidak mungkin semuanya menjadi wali kota.

“Bayangkan tadi ada 300 orang ini sekarang. Tidak mungkin 300 orang jadi wali kota. Satu saja yang jadi. Tapi ada yang jadi kepala dinas, ada yang jadi Sekretaris Kota Ambon, ada yang jadi guru, ada yang jadi kepala sekolah,” katanya.

“Semua inilah yang akan membangun kota ini ke depan,” lanjutnya.

Di akhir pesannya, Bodewin berpesan kepada para siswa agar selalu menghormati orang tua dan guru.

Kalau ketong ingin besok-besok menjadi orang yang hebat, dari dalam keluarga jangan melawan orang tua. Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya lebih buruk di masa depan,” pesannya.

Ia juga mengingatkan siswa agar tidak mengukur masa depan hanya berdasarkan kondisi kehidupan saat ini.

“Jangan lihat keberadaan anak-anak sekalian hari ini. Hari ini mungkin ada yang tidak mampu membeli buku cetak, tapi belum tentu masa depannya tidak cerah. Hari ini ada orang tua yang berkecukupan, bisa kasih apa saja, tapi ingat, masa depan bukan soal orang tua bisa apa hari ini,” ujarnya.

Menurut Bodewin, masa depan sangat ditentukan oleh kemauan dan usaha masing-masing individu.

“Yang bisa menentukan seseorang menjadi apa adalah dirinya sendiri. Karena itu anak-anak sekalian, mulai belajar dari sekarang. Cita-cita anak-anak hari ini masih bisa berubah,” katanya.

Ia mengaku perjalanan hidupnya mengajarkan bahwa setiap proses harus dijalani dengan penuh keyakinan serta mengandalkan Tuhan.

“Secara pribadi saya merasa bahwa sampai hari ini dalam hidup saya belum pernah ada kegagalan. Semua itu cuma bergantung kepada Tuhan,” tuturnya.

Bodewin pun meminta seluruh siswa SMP Negeri 4 Ambon untuk terus belajar, berdoa, menaati nasihat orang tua dan guru, serta menjauhi berbagai hal yang dapat merusak masa depan.

“Belajar yang baik, taati semua yang tadi saya bilang, jauhi semua hal-hal yang tidak baik. Lalu lihat bahwa masa depan anak-anak sekalian pasti akan lebih baik,” pungkasnya.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *