Ambon, Gardatimur.com – Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena secara resmi membuka Grand Final Jukulele Festival tingkat Kota Ambon 2026. Kegiatan tersebut diikuti peserta dari lima kecamatan di Kota Ambon yang sebelumnya telah melewati tahapan audisi di tingkat kecamatan.
Grand Final Jukulele Festival Kota Ambon 2026 menjadi salah satu upaya Pemerintah Kota Ambon untuk melestarikan musik tradisional sekaligus memberikan ruang kepada generasi muda dalam mengembangkan minat dan bakat di bidang musik.
Bodewin mengatakan, jukulele merupakan salah satu musik tradisional yang tumbuh dan berkembang di Kota Ambon serta menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat.
“Jukulele merupakan salah satu musik tradisional yang tumbuh dan berkembang di Kota Ambon. Musik tradisional ini menggambarkan identitas kita sebagai orang-orang Ambon. Tanggung jawab kita bersama adalah terus menjaga, melestarikan, dan membudayakannya,” kata Bodewin.
Menurutnya, pelaksanaan festival jukulele juga memiliki peran penting dalam mendukung Ambon sebagai Kota Musik Dunia yang telah diakui UNESCO.
“Pengakuan Kota Ambon sebagai Kota Musik Dunia tidak saja membanggakan kita sebagai orang Ambon, tetapi ada tanggung jawab besar kita untuk memastikan bahwa pengakuan itu tidak sekadar pengakuan biasa-biasa saja. Pengakuan itu mesti memotivasi kita semua untuk terus menjaga dan mengembangkan ekosistem musik di Kota Ambon,” ujarnya.
Bodewin menegaskan, musik jukulele tidak boleh dibatasi oleh berbagai perbedaan yang ada di tengah masyarakat. Sebaliknya, jukulele harus menjadi sarana untuk memperkuat persatuan dan persaudaraan masyarakat Kota Ambon.
“Jukulele tidak disekat oleh perbedaan-perbedaan yang kita miliki. Jukulele mesti menjadi alat pemersatu kita. Identitas Kota Ambon, musik tradisional ini mesti menjadi alat pemersatu kita untuk bersama-sama menghidupkan musik di Kota Ambon, tetapi juga membangun hubungan persaudaraan antarorang bersaudara di Kota Ambon,” tuturnya.
berharap Jukulele Festival tidak berhenti sebatas ajang perlombaan, tetapi menjadi bagian dari proses pembinaan dan pengembangan potensi generasi muda Kota Ambon.
Dalam kesempatan tersebut, Bodewin menantang Pemerintah Kota Ambon dan seluruh pihak terkait untuk mulai melakukan pendataan terhadap para pemain jukulele di Kota Ambon.
Pendataan tersebut dinilai penting sebagai langkah awal untuk menyiapkan target yang lebih besar pada pelaksanaan festival tahun mendatang, yakni memecahkan rekor MURI atau bahkan rekor dunia dalam pertunjukan jukulele.
“Di-data semua pemain jukulele di Kota Ambon. Tahun depan kita pecahkan rekor dunia atau rekor MURI pada saat final jukulele tingkat Kota Ambon. Itu baru kita bilang jukulele pardunia, Ambon pardunia,” tegasnya.
Untuk mendukung target tersebut, Bodewin meminta agar pembelajaran musik kembali dijalankan secara maksimal di seluruh sekolah di Kota Ambon.
Sekot, ini perintah. Tidak ada lagi alasan. Apa pun masalahnya, segera cari solusi dan pastikan kurikulum musik terus berjalan di sekolah-sekolah di Kota Ambon,” katanya.
Bodewin memberikan waktu satu bulan kepada Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, serta seluruh pihak terkait untuk mencari solusi agar pembelajaran musik dapat kembali berjalan secara optimal di sekolah-sekolah.
Menurut Bodewin, pembinaan musik sejak usia sekolah merupakan investasi jangka panjang untuk melahirkan musisi-musisi hebat dari Kota Ambon yang mampu berkiprah di tingkat nasional hingga internasional.
“Kota Musik Dunia ini bukan narasi, bukan sekadar pengakuan. Tetapi mesti menjadi motivasi kita untuk melakukan berbagai hal untuk memastikan 10–20 tahun ke depan dari kota ini akan lahir musisi-musisi hebat. Mereka akan mengisi panggung-panggung nasional dan internasional,” ungkapnya.
Bodewin juga mengingatkan para peserta bahwa tujuan utama mengikuti kompetisi bukan semata-mata untuk menjadi juara. Festival harus menjadi ruang untuk mengukur perkembangan kemampuan, membangun semangat kompetisi, sekaligus belajar bekerja sama dalam sebuah kelompok.
“Tidak ada harmoni yang tercipta kalau masing-masing punya ego. Tidak ada harmoni yang tercipta kalau satu mau lebih dari yang lain,” ujarnya.
Ia pun berharap seluruh peserta terus berlatih dan menjadikan musik sebagai bagian dari proses membangun masa depan.
“Paling tidak kita memaknai peristiwa final jukulele ini sebagai bagian dari usaha kita untuk anak-anak ini mengerti memaknai hidup: bekerja sama, tahan ego, ciptakan harmoni, baru mereka bisa berhasil,” tandas Bodewin.
Grand Final Jukulele Festival Kota Ambon 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang kompetisi seni, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat pelestarian musik tradisional, membangun ekosistem musik, serta mempersiapkan generasi muda Ambon menuju panggung musik nasional dan internasional.













