Pemkot

Lomba Bertutur SD/MI Kota Ambon 2026 Digelar, Ely Toisutta Ajak Sekolah Perkuat Budaya Baca dan Literasi Anak

7
×

Lomba Bertutur SD/MI Kota Ambon 2026 Digelar, Ely Toisutta Ajak Sekolah Perkuat Budaya Baca dan Literasi Anak

Sebarkan artikel ini

Ambon, Gardatimur.com – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Ambon menggelar Lomba Bertutur Tingkat SD/MI Se-Kota Ambon Tahun 2026 di Hotel Kamari Ambon, Senin (20/7). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Ambon dalam meningkatkan budaya gemar membaca, memperkuat literasi anak, sekaligus melestarikan cerita rakyat dan kearifan lokal.

Kegiatan tersebut diikuti puluhan siswa dari berbagai sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah di Kota Ambon. Lomba bertutur menjadi wadah bagi peserta untuk menampilkan kemampuan bercerita dengan mengangkat kisah-kisah yang sarat nilai moral, budaya, dan karakter bangsa.

Lomba Bertutur Tingkatkan Minat Baca dan Literasi

Dalam laporan panitia yang dibacakan Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Ambon, Neles Moniharapon, dijelaskan bahwa bertutur merupakan kegiatan bercerita atau mendongeng yang bertujuan meningkatkan minat baca dan literasi masyarakat, khususnya anak-anak.

Menurutnya, kegiatan bertutur diawali dengan proses membaca sebagai fondasi utama pendidikan, baik formal maupun nonformal, sehingga perlu terus dikembangkan melalui berbagai program pembinaan dan pengembangan budaya membaca.

Hal tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, Bab VIII Pasal 48 Ayat (1), yang menegaskan bahwa pembudayaan kegemaran membaca dilakukan melalui lingkungan keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat.

“Budaya membaca harus ditanamkan sejak usia dini dan dilakukan secara berkesinambungan. Sekolah memiliki peran strategis melalui pemanfaatan perpustakaan secara maksimal,” ujar Moniharapon.

Ia menjelaskan, pelaksanaan lomba diawali dengan seleksi video bertutur berdurasi 5–7 menit.

Dari 46 peserta yang mendaftar, sebanyak 30 peserta dinyatakan lolos ke babak final sesuai hasil seleksi berdasarkan petunjuk teknis pelaksanaan.

Lomba bertutur tahun ini mengangkat tema pelestarian budaya lokal dan penanaman nilai persatuan dalam keberagaman, rasa saling menghormati, serta semangat nasionalisme sejak dini.

Penilaian dilakukan berdasarkan kemampuan peserta dalam menyampaikan cerita secara lisan, meliputi intonasi, ekspresi, penguasaan materi, hingga penyampaian pesan yang mengandung nilai-nilai budaya Nusantara.

Panitia menyebutkan beberapa tujuan utama kegiatan ini, yakni:

– Meningkatkan literasi melalui budaya gemar membaca.

– Melestarikan budaya dan cerita rakyat Nusantara.

– Menanamkan pendidikan karakter dan nilai moral kepada peserta didik.

– Mengembangkan kemampuan komunikasi dan public speaking sejak dini.

Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari Pemberian Penghargaan Gerakan Budaya Gemar Membaca Tingkat Kota Ambon.

Panitia melaporkan sejumlah hasil yang telah dicapai melalui kegiatan tersebut, antara lain:

– Meningkatnya kemampuan membaca dan memahami isi cerita.

– Bertambahnya kepercayaan diri peserta dalam berbicara di depan umum.

– Tumbuhnya karakter positif seperti empati, kreativitas, dan penghargaan terhadap nilai-nilai moral.

– Memberikan ruang bagi peserta untuk meraih prestasi sesuai bakat dan kemampuan mereka.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Ambon, Ely Toisutta, dalam sambutannya mengingatkan pentingnya membangun budaya membaca sejak dini.

Ia mengutip pandangan budayawan Taufik Ismail yang pernah menyebut Indonesia mengalami “tragedi nol buku”, karena rendahnya jumlah buku yang dibaca oleh lulusan sekolah dibandingkan sejumlah negara lain.

Selain itu, Ely juga mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan minat baca anak Indonesia masih rendah.

Menurutnya, tingkat minat baca anak Indonesia hanya sekitar 17,66 persen, sedangkan aktivitas menonton mencapai 91,67 persen. Bahkan, rata-rata penggunaan media sosial berkisar antara 4 hingga hampir 6 jam per hari, sementara waktu membaca masih kurang dari satu jam setiap hari.

“Kondisi ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa anak-anak kita sedang berada dalam kondisi darurat membaca,” tegas Ely.

Ely mengajak seluruh sekolah dasar di Kota Ambon untuk memperkuat program literasi dengan membiasakan peserta didik membaca buku, menceritakan kembali isi bacaan, serta membuat ringkasan atau resensi menggunakan bahasa mereka sendiri.

Ia juga mendorong sekolah memiliki program peminjaman buku secara rutin melalui perpustakaan sekolah agar budaya membaca menjadi kebiasaan sehari-hari.

Selain itu, ia meminta seluruh kepala sekolah memperkuat kolaborasi dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Ambon guna meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Gemar Membaca (TGM).

Menurut Ely, nilai TGM Kota Ambon pada tahun 2025 masih berada di angka 59,75, sedangkan IPLM mencapai 11,74, sehingga diperlukan kerja sama seluruh pihak agar capaian tersebut meningkat pada tahun 2026.

Ely menegaskan bahwa budaya membaca dan kemampuan bertutur merupakan fondasi penting dalam membentuk generasi emas di era digital.

Melalui lomba ini, anak-anak tidak hanya belajar membaca, tetapi juga memahami isi bacaan, mengembangkan imajinasi, membangun karakter, serta meningkatkan kepercayaan diri saat berbicara di depan umum.

Ia juga mengapresiasi para guru dan orang tua yang terus mendampingi anak-anak dalam membangun kebiasaan membaca.

“Kalian semua yang hadir hari ini adalah pemenang karena telah berani membaca, berani belajar, dan berani tampil. Jadikan lomba ini sebagai pengalaman yang menyenangkan sekaligus momentum untuk semakin mencintai budaya membaca dan tradisi bertutur,” tutup Ely.

Dengan terselenggaranya Lomba Bertutur Tingkat SD/MI Se-Kota Ambon Tahun 2026, Pemerintah Kota Ambon berharap budaya literasi terus tumbuh di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat sehingga mampu melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, serta mencintai budaya dan warisan bangsa.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *